Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Seri: 06


RITUS TOBAT

 

 


Setelah memberikan pengantar singkat, imam kemudian mengajak seluruh umat untuk mengambil bagian dalam pengakuan dosa bersama (Confiteor) dan diakhiri oleh absolusi dari imam. Makna liturgis dari pengakuan bersama ini adalah seluruh umat mengakui dan mohon pengampunan kepada Allah dan kepada sesama atas dosa-dosa dan atas apa saja yang telah ia lakukan dengan salah. Gereja percaya bahwa Allah Bapa sedang menunggu untuk memperlihatkan kepada putra-putri-Nya cinta, kerahiman dan pengampunan-Nya. Ritus Tobat ini mencakup unsur-unsur berikut.

 

Pengakuan Bersama
Seluruh umat mengakui dosanya melalui rumusan doa: “Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa (sambil menebah dada). Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita”.


Makna dari tata gerak menepuk atau menebah dada tiga kali, pada saat kita mengucapkan “saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh
berdosa”. Sikap batin ini mengacu pada pengalaman alkitabiah. Dalam Injil (Lukas 18: 13) dikisahkan “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya, Allah, kasihanilah aku orang berdosa
ini.”

 

Berinspirasi pada pengalaman biblis ini, Gereja memahami bahwa dada hanyalah simbol. Makna sesungguhnya dari sikap menebah
dada ialah menebah atau menyadari hati. Hati dianggap sebagai biang dari segala dosa manusia (Markus 7:21). Maka, sumber retaknya hubungan antar manusia dan antara manusia dengan Allah adalah hati manusia. Sehingga gerakan tangan yang menepuk atau menebah mengungkapkan rasa sesal dan tobat, dan disertai kehendak untuk membuat atau menjadikan hati yang bertobat itu menjadi baru. Menebah “tiga kali” bermakna “sungguh-sungguh menyesali dosa dan bertobat”. Dapat juga dengan cara meletakkan telapak tangan pada dada dan menundukkan kepala selama pengakuan bersama atau dengan cara lain lagi yang lebih sesuai seturut kebiasaan setempat.

 

Komunitas dapat memilih posisi tubuh berdiri atau berlutut yang dirasa sesuai dengan cita rasa budaya umat beriman, yang tentu maknanya selaras dengan makna dan maksud Ritus Tobat. Sebaiknya komunitas memilih salah satu cara untuk dipraktekan bersama supaya menandakan kesatuan hati umat.

 

Bersambung.

 

P. Tinus Sirken, OSC