Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan I, 1Raj 17:10-6; Bacaan II, Ibr 9:24-28; Injil Mrk 12:38-44

 

KEUTAMAAN MEMBERI

 

Bacaan-bacaan hari Minggu Biasa ke-32 ini mengangkat tema “KEUTAMAAN MEMBERI”. Bacaan injil dan bacaan I mengangkat  figur “Janda”. Mengapa janda ? Krn Janda adalah representasi kaum yg tdk berdaya, lemah bahkan miskin. Dan Allah selalu memihak kaum yg miskin dan tdk berdaya. Krn itu juga gereja purba mengangkat orang-orang khusus menjadi diakon, seperti Stefanus, utk melayani para janda (Kisras 6:1-7). Injil memberi gambaran yg kontras antara perilaku para Ahli Taurat dan janda. Para AhliTaurat, yg menguasai isi dan ajaran Kitab Suci, sehrsnya menjadi panutan dan contoh. Ternyata sikap mereka bertentangan dgn apa yg mereka ketahui. Ada “gap” antara pengetahuan dan perilaku. Di lain pihak Yesus memuji sikap janda miskin yg “memberi dari kekurangannya”  (Mrk 12:44). Tindakan “memberi” biasanya terjadi kalau orang memiliki lebih. Dlm peribahasa Latin dikatakan : “Nemo dat, quod non habet” atau “Orang tdk bisa memberi kalau tdk memiliki”. Namun sikap janda di dlm injil justru sebaliknya. Dia memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya. Dia ingin membuktikan bhw tindakan “memberi” tdk selalu dilakukan kalau seseorg memiliki kelebihan. Di sini perbuatan "memberi" bisa berarti “berbagi” ! Berbagi artinya membiarkan orang lain turut menikmati atau merasakan apa yg kita miliki.  Dlm bacaan pertama diceriterakan juga ttg seorg janda di Sarfat yg hanya memiliki segenggam tepung utk satu kali makan buat dia dan anaknya (1 Raj 17:10-16). Ketika Nabi Elia meminta roti, si janda itu membuatnya. Dan atas kemurahan hati si janda, tepung dan minyak yg dia miliki tdk pernah habis. Itulah kebaikan Tuhan. Hanya sedikit yg kita beri, namun pahala yg diterima bisa "banyak kali lipat". The more you give, the more you get ! Dua bacaan tadi menunjukkan bhw perbuatan “memberi” tdk hrs dilakukan oleh org yg "berpunya" atau memiliki kelebihan. Krn seorg janda sekalipun, yg merupakan representasi kaum miskin dan lemah bisa melakukannya. Kedua, perbuatan memberi hrs dilakukan dgn tulus dan ikhlas. Janda-janda di atas jelas tdk mengharapkan apa-apa ketika memberi derma atau menolong Nabi Elia. Mereka memberi tanpa pamrih.  Ketiga, perbuatan memberi bisa menimbulkan resiko.  Janda di Sarfat memberikan roti yg sehrsnya menjadi makanan keluarganya, krn setelah itu mereka mati krn tdk ada makanan lagi (1 Raj 17:12). Dia mempertaruhkan rejekinya, hidupnya utk orang lain. Perbuatan “memberi” memang menuntut pengorbanan. Bacaan kedua memberi contoh konkrit dgn kehidupan Kristus sendiri. Kristus tdk memberikan “duit” atau “roti”, melainkan DiriNya sendiri. “Kristus mengurbankan DiriNya utk menanggung dosa banyak orang” (Ibr 9:28). Inilah level pemberian yg tertinggi, yaitu diri sendiri ! Maka apa yg dpt kita pelajari dari bacaan hari ini ? 1) Perbuatan “memberi” tidak selalu krn kita memiliki kelebihan. Di sini "memberi artinya berbagi". 2) Memberi hrs dilakukan dgn ikhlas. Bukan “do ut des” – saya beri, spy engkau memberi kpd saya. 3) Memberi tdk selalu dlm bentuk materi.  Sikap empati, senyum, sumbangan pikiran, tenaga, nasehat yg konstruktif dpt menjadi bentuk pemberian yg sangat berharga. Dgn demikian, perbuatan “memberi” itu sehrsnya dpt dilakukan oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Semoga !