Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan 1: 1Sam 1:20-22. 24-28Bacaan 2:1Yoh 3:1-2. 21-24Bacaan Injil :Luk 2:41-52

 

Pesta Keluarga Kudus

 

Tujuh hari lalu bacaan Injil tentang Maria yang sedang mengandung, dan mengunjungi Elisabet saudaranya. Jumat kemarin kita merayakan Natal, hari kelahiran Yesus, dan hari ini, bacaannya sudah tentang Yesus berumur 12 tahun! Sungguh cepat waktu berlalu! Tetapi, hidup juga seringkali terasa seperti itu. Baru kemarin rasanya melihat anakku bermain dan berlari-lari, sekarang ia sudah lulus kuliah. Baru kemarin rasanya bercanda dengan teman-teman sekolah, sekarang sudah tua. Mungkin seperti itu juga yang dirasakan bunda Maria, ia tergagap-gagap karena rasanya baru minggu lalu bayi mungil Yesus lahir, digendong dan diajak bermain-main, tetapi tiba-tiba Ia sudah menunjukan kedewasaan-Nya, dan terasa ada jarak yang tak bisa didekatkan lagi. Dalam berbagai kesibukan kita, tanpa disadari waktu telah berlalu dan tak mungkin kembali lagi.  Kiranya pada hari Pesta Keluarga Kudus ini, baiklah kitapun memaknai kembali keluarga kita, karena memang waktu kebersamaan kita dengan keluarga sungguh cepat berlalu.

Saat bunda Maria berkata: “Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” (Luk 2:48), Lukas memakai kata “cemas/odyn?menoi” yang sama dengan kata “kesakitan”  pada kalimat “sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini” Luk 16:24 yang diucapkan orang kaya pada kisah Lazarus si pengemis.  Kiranya dari apa yang dirasakan bunda Maria ini kita bisa memahami seberapa besar rasa kehilangannya. Seperti pedihnya kehilangan salah satu anggota keluarga dekat, dimana rasanya sebagian dari hati seolah-olah tercerabut keluar, dan kekosongan yang ditimbulkannya tak bisa dihibur dengan apapun. Kiranya pada hari ini kita diminta untuk lebih menghargai lagi keluarga kita, selagi kita masih dikaruniai kebersamaan dengan mereka, yang tidak akan berlangsung selamanya.

Keluarga; Disadari ataupun tidak adalah karunia Tuhan kepada kita, yang seringkali, karena begitu banyaknya kesibukan, tugas dan tanggung jawab, ditambah pula berbagai hiburan, serta gadget sosial, membuat kita makin menjauh dari keluarga, walaupun selalu berada dirumah. Uskup Anglikan, Desmond Tutu pernah berkata: “Kita tidak bisa memilih keluarga dimana kita dilahirkan. Mereka adalah karunia Tuhan, tetapi kitapun karunia Tuhan bagi mereka”. Sudahkah Anda menjadi “Karunia Tuhan” bagi keluarga Anda? Atau sebaliknya menjadi hantu yang seolah hadir tapi tak pernah sungguh-sungguh hadir dan peduli?, atau malah menjadi kutukan karena hadirnya tidak lagi membawakan kebahagiaan tetapi selalu membawa omelan dan mencari-cari kesalahan?