Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan 1 : Yos. 5:9a,10-12; Bacaan 2: 2Kor. 5:17-21; Bacaan Injil ; Luk. 15:1-3,11-32.

 

SINDROM ANAK BAIK

 

SEMUA orangtua mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang baik. Sampai di sini, ini normal sekali. Tetapi jika harapan ini berubah menjadi paksaan (dalam aneka bentuk), efeknya bisa berbahaya. Seorang anak bisa “belajar” memanipulasi agar dinilai baik oleh orangtuanya,. Manipulasi ini berawal dari keinginan anak untuk menyenangkan hati orang tua (mendapatkan reward), atau menghindarkan diri dari hukuman. Lebih jauh lagi, dia akan melakukan tindakan manipulatif untuk menyenangkan bukan hanya orangtuanya, tetapi juga masyarakat. Bohong menjadi kebiasaan, hingga, pada tahap ekstrim, bisa terjadi perbedaan tajam antara dia yang sesungguhnya dengan dia dalam persepsinya sendiri. Dalam dunia psikologi, kondisi ini disebut dengan “sindrom anak baik” (good boy syndrome). SEORANG teolog Filipina mengatakan banyak di antara umat beriman yang secara akut menyandang sindrom ini. Orang berfantasi bahwa dirinya adalah orang beriman yang baik. Rajin mengikuti seluruh ritual agama, mengikuti semua aturan agama, “merasa berdosa kalau masuk gereja lupa mengambil air suci untuk tanda salib”, semuanya berjalan tanpa sela, secara mekanistis. Orang positif terkena sindrom ini jika semua kesalehan ritual ini tidak diimbangi dengan kesalehan sosial. Secara ritual dia sungguh saleh, tabi bisa jadi secara sosial dia bermasalah. BACAAN hari ini kita berbicara mengenai Bapa yang Al-Rahim, yang bersedia menerima kembali si bungsu, tanpa memperhitungkan kesalahannya. Dalam tradisi Yahudi, warisan hanya diterimakan setelah sang ayah meninggal. Maka meminta warisan ketika ayahnya masih hidup berarti menganggap atau berharap ayahnya sudah mati. Namun demikian sang ayah menerima dengan baik si bungsu, yang telah kehilangan seluruh hartanya. KERAHIMAN Allah berlaku untuk semua manusia, tanpa kecuali. Tetapi yang paling merasakan dan menikmati kerahiman itu sejatinya adalah si pendosa yang bertobat. Bagi si sulung dalam bacaan hari ini, kerahiman Allah sudah menjadi biasa; sedemikian biasa hingga dia tidak tahu keistimewaan kerahiman itu. Si sulung bahkan marah ketika Bapa merahimi adiknya, si pendosa yang bertobat. MENJADI tidak mudah bagi kita, yang mungkin cenderung merasa sebagai si sulung, atau bahkan si pengidap good boy syndrome. Kita merasa baik-baik saja, bahkan sedemikian baik sehingga tak memerlukan pertobatan. Tetapi soalnya, haruskah kita sampai ke level tersungkur, hingga harus makan makanan babi, untuk menemukan momentum pertobatan?