Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

 

Bacaan 1 : Yes. 43:16-21 Bacaan 2: Flp. 3:8-14 Bacaan InjilYoh. 8:1-11

 

KERAHIMAN BAGI YANG HILANG HARAPAN

 

DUA kelompok yang bermusuhan bias tiba-tiba bersekutu kalau mereka menghadapi musuh yang sama. Itulah yang terjadi antara orang Farisi dengan ahli Taurat ketika mereka berhadapan dengan Yesus. Bukan sekali ini saja dua kelompok yang sebenarnya saling berseberangan ini bersekongkol untuk menjebak Yesus. Pada peristiwa lain mereka menjebak Yesus dengan pertanyaan apakah perlu membayar pajak pada kaisar. Pada bacaan hari ini mereka membawa perempuan yang kedapatan berzinah kepada Yesus. Mereka bertanya apakah Yesus menyetujui hokum Taurat untuk membunuh orang yang kedapatan berzinah. MEREKA berharap Yesus tegas menjawab setuju atau tidak setuju pada hokum Taurat. Kalau Yesus menjawab ‘tidaksetuju’, maka Beliau akan berhadapan dengan kemarahan orang Yahudi. Tetapi kalau Beliau bilang ‘setuju’ dan membiarkan perempuan itu dilempari batu sampai mati (dirajam), Beliau akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang menjajah tanah Israel ketika itu. Hukum sipil Romawi sebenarnya juga melawan perzinahan, tetapi tidak mengenal hokum rajam. SADAR akan jebakan itu, setelah diam sejenak, Yesus menjawab, "Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Dengan jawaban itu Yesus bebas dari jebakan.Tetapi ini bukan semata soal kecerdasan bersilat lidah. Dengan itu Yesus melontarkan kritik tajam pada mereka yang melihat hukum demi hokum itu sendiri. Yesus mengkritik mereka yang memandang hokum tanpa hati nurani. SI PEREMPUAN sendiri, tak bias apa-apa selain pasrah. Kitab Imamat 20:10 tegas mengatakan, seorang pezinah harus dihukum mati. Bahkan Ulangan 22:22-24 memberikan juklak yang jelas: “Maka haruslah para pezinah itu kamu bawa keluar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati.” Tetapi ternyata tidak. Berkat Yesus, tak ada yang berani menghukumnya. MAKA drama politik yang dimainkan orang Farisi dan ahli Taurat, bagi perempuan itu justru menjadi momentum pembebasan. Awalnya dia menduga, jikapun Yesus mengatakan melawan Taurat, perempuan itu tahu dia tetap akan mati. Kalau mereka berhasil menjebak dan menyingkirkan Yesus, mereka juga akan tetap merajamnya. KALAU bacaan pecan lalu menunjukkan bahwa kerahiman Allah diberikan kepada mereka yang menghadap-Nya dengan penuh sesal, kali ini tidak. Kerahiman Allah juga menjangkau pendosa yang tak berdaya, kehilangan harapan, dan bahkan tidak secara sadar memikirkan pertobatan.