Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan 1: Yes. 50:4-7Bacaan 2:Flp. 2:6-11Bacaan Injil :Luk. 23:1-49

 

INSTRUMEN KERAHIMAN ILAHI

 

RAJA menunggang keledai. Tidakkah itu sebuah ironi? Keledai adalah binatang tunggangan atau angkut, sekeluarga dengan kuda (Equidae) tapi beda species. Dibanding kuda, keledai terhitung mini. Tinggi rata-ratanya sekitar 160 cm, dengan berat rata-rata 250 kg. Bandingkan dengan kuda, yang tingginya bisa melebihi 200 cm, dengan berat mencapai 800 kg.  Hari ini, satu bacaan Injil bercerita bagaimana Yesus, di atas seekor keledai, masuk ke Yerusalem, dielu-elukan sebagai raja (Luk 19:36). Kisah itu paralel dengan bacaan ofisi, bagaimana Nabi Yeremia menggambarkan seorang raja Israel yang terberkati. Raja itu juga digambarkan masuk melalui gerbang Yerusalem, untuk duduk di tahta Daud. Bedanya, sang raja versi Yeremia datang mengendarai kereta atau kuda (Yer22:4). BETAPA BEDA antara ke-raja-an Wangsa Daud dengan ke-raja-an Yesus. Raja-raja Israel Wangsa Daud memiliki segala wajah kejayaan sosial politik, sedang wajah ke-raja-an Yesus jauh dari itu. Keledai, betapa lemahnya. Dalam simbolisme kitab suci, keledai tidak dibaca sebagai “kuda mini”, atau “kurang begitu kuda” tetapi “bukan kuda” [bandingkan 777 yang dimaknai sebagai amat sangat sempurna, sedang 666 dimaknai sebagai amat sangat tidak sempurna]. Jelasnya, Yesus tak punya fitur maupun aksesoris raja, tak punya king presence pada zamannya. Jadi, raja model mana sesungguhnya Yesus kita hari ini? PASIO versi Lukas memberikan gambaran yang lebih lengkap: Yesus adalah raja yang dikhianati, ditangkap, dan ketika disalib, “semua orang yang mengenalnya dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semua itu.” (Luk 23:49)  Yesus wafat dalam kondisi ditinggalkan bahkan oleh orang-orang terdekatnya. TETAPI Gereja justru melihat, di sanalah letak ke-raja-an. Keledai, dikhianati, dan gugur dalam sunyi adalah instrumen penguasaan. Itu semua adalah sarana bagi-Nya untuk memastikan kita semua dikumpulkan dalam kesatuan kuasa Allah. Itu semua adalah instrumen penyelamatan. Keledai, dikhianati, dan gugur dalam sunyi adalah “perang” tunggal-Nya untuk memenangkan jiwa-jiwa. Ini adalah sebuah heroisme spiritual, yang jauh dari heroisme sosial politik Wangsa Daud.  Dengan heroisme spiritual itulah Dia telah memutar anak kunci bagi terbukanya garba kerahiman Illahi. Bagi kita semua. (*)