Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan 1: Kej. 14:18-20 Bacaan 2 : 1 Kor. 11:23-26 Bacaan Injil : Luk. 9:11b-17

“BERANI BERBAGI”

 

Stephen R. Covey - penulis buku bestseller “The 7 Habits of Highly Effective People” - membagi manusia atas 2 kelompok, yaitu yang memiliki “Mental Kelimpahan” (Abundance Mentality) dan yang memiliki “Mental Kelangkaan” (Scarcity Mentality). Orang yang memiliki “Mental Kelangkaan” berpikir bahwa kita tidak mempunyai cukup sumber untuk dinikmati semua orang. Mereka sulit membagi “pengakuan dan penghargaan, wewenang dan keuntungan”. Mereka memiliki “paragdima zero-sum” bahwa apa yang saya bagikan akan mengurangi apa yang saya miliki. Sebaliknya, “Mental Kelimpahan” mengalir dari nilai diri dan rasa aman pribadi yang mendalam. Mereka berpikir bahwa di luar sana tersedia cukup sumber yang dapat dibagi untuk semua orang. Mereka tidak pelit untuk memberi pujian, pengakuan dan penghargaan. Mental ini lahir dari karakter yang kaya oleh integritas, kematangan dan kejujuran.

Injil hari ini (Lk 9:11b-17) bicara tentang MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI. Mukjizat ini sangat penting dan satu-satunya mukjizat yang diceritakan dalam 4 injil (Mateus, Markus, Lukas, Yohanes). Ada 4 hal penting dari injil ini : 1) Ketika hari mulai malam para murid mengusulkan orang banyak itu pergi (ayat 12). “Malam” adalah simbol kegelapan, bahaya, godaan dan masalah. Usulan para murid cukup masuk akal, tapi terkesan lepas tanggungjawab. Mereka cari jalan pintas dengan menyuruh orang banyak pergi. Ketika menghadapi masalah atau bahaya, kita cenderung cari jalan pintas atau lepas tanggungjawab. 2) Sikap Yesus sangat tepat dengan mengatakan “Kamu harus beri mereka makan” (ayat 13). Ini sikap mau bertanggungjawab, sikap berani ambil risiko. Sebagai calon pemimpin gereja, Yesus mengharapkan para murid untuk peduli dan mau bertanggungjawab terhadap situasi orang banyak, situasi umat manusia. 3) Hanya ada “5 roti dan 2 ikan” (ayat 13). Ini sikap “mental kelangkaan” (scarcity mentality), di mana “untuk kami saja tidak cukup, apalagi buat orang lain”. Sikap egois membuat “apa yg dimiliki” tidak pernah cukup, sehingga tidak mungkin bisa dibagikan kepada orang lain. 4) Yesus mengambil roti itu, menengadah ke langit untuk berdoa, mengucap syukur, memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada para murid (ayat 16). Ini rumusan EKARISTI. Bdk Doa Syukur Agung I : “Ia mengambil roti .. dan sambil menengadah kepadaMu.. Ia mengucap syukur dan memuji Dikau ..memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-muridNya seraya berkata..”

Bagi Yesus, 5 roti dan 2 ikan sangat cukup untuk dibagikan kepada orang banyak. Yesus mengubah “MENTAL KELANGKAAN” menjadi “MENTAL KELIMPAHAN”. Menurut Yesus : kita memiliki cukup sumber daya dan kemampuan untuk dibagikan. Pengertian “makanan” di sini bukan makanan jasmani saja, melainkan juga makanan rohani, makanan mental, seperti : sikap saling mengasihi, saling memaafkan, mau mengerti, saling menghargai, saling berbela rasa, dll. Yesus mengubah “kekurangan kita” menjadi “kekayaan”, “kelemahan” menjadi “kekuatan”, “keragu-raguan” menjadi “keberanian”, “pesimisme” menjadi “optimisme”. Seperti Yesus yang mau membagi “Tubuh dan DarahNya” untuk keselamatan kita, demikian pula kita harus berani membagi “apa yang kita miliki” untuk kepentingan orang lain. Inilah makna Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Berani bersaksi, berani berbagi dan berani berbela-rasa. Keberanian yang timbul dari “Mental Kelimpahan” (abundance mentality) adalah mental seorang Kristiani sejati !