Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan 1: 1Raj. 19:16b,19-21 Bacaan 2 : Gal 5:1,13-18 Bacaan Injil : Luk. 9:51-62.

Tidak Layak Untuk Kerajaan Allah

 

Mirip dengan minggu lalu, bacaan minggu ini agak saling bertentangan. Dalam Injil, pada saat ada seorang yang meminta ijin untuk berpamitan dahulu dengan orangtuanya sebelum ia pergi mengikuti Yesus, Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”. Tetapi sebaliknya dalam bacaan pertama kita mendapatkan Elisa yang ketika ia meminta ijin untuk mencium ayah ibunya dahulu sebelum ia pergi mengikuti panggilan nabi Elia, saat itu nabi Elia mengizinkannya. Apakah sebabnya terjadi perlakuan yang sangat berbeda ini? Tidakkah justru Yesus menganjurkan orang yang ingin mengikuti-Nya itu untuk tidak menghormati ayah ibunya?

 

Bila kita memperhatikan lebih lanjut pada apa yang dikatakan Yesus, maka akan dapat dirasakan bahwa Yesus bukan melarang orang untuk berpamitan dengan orangtuanya, melainkan Ia menggambarkan situasi yang sedang terjadi pada orang itu, yaitu ketidak siapan dan ketidak layakkannya. Sedangkan yang terjadi pada nabi Elisa adalah hal yang berbeda, saat dipanggil ia sedang membajak dengan mempergunakan 12 pasang lembu (bagaimana caranya? Sedang dengan sepasang lembu saja sudah cukup). Gambaran hiperbolis (berlebihan) ini menunjukkan adanya makna iman didalamnya, dan, karena saat seseorang membajak tanah, tujuannya adalah untuk menggemburkan dan menyuburkan tanah, serta pada saat yang sama membersihkan tanahnya dengan membuang batu-batu dan semak-semak duri yang bisa mengganggu pertumbuhan tumbuhan yang akan ditanam. Tindakan Elisa ini mengingatkan kita akan perumpamaan penabur, dimana Yesus melambangkan tanah dengan hati manusia, dan tanah tidak subur karena, penuh bebatuan, serta semak berduri yang akan membuat benih firman Tuhan menjadi mati. Sehingga apa yang dilakukan Elisa menunjukan kesiapan dan kesuburan hatinya untuk menerima firman Tuhan. Kemudian tindakan Elisa menyembelih lembunya, serta membakar bajaknya juga menunjukan bahwa ia sungguh-sungguh meninggalkan pekerjaan serta kehidupan lamanya untuk menjadi manusia baru.

 

Sebenarnya setiap saat dan dalam berbagai kesempatan kita juga disapa oleh Yesus baik melalui firman maupun kejadian dalam hidup, dan bukan sekali pula timbul keinginan kita untuk lebih mengikuti Dia. Akan tetapi, keengganan kita untuk membersihkan hati dan menyiapkan hatilah yang sering menghalangi kita.