Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

 

Bacaan 1 :Keb 9:13-18 Bacaan 2: Flm. 9b-10.12-17 Bacaan Injil : Luk 14:25-33


Maaf, Pulang Saja


TEPAT sebelum kotbah dimulai, di sebuah gereja di Rio de Janeiro, terdengar rentetan tembakan di luar gereja, tepatnya dekat kedua pintu samping. Umat panik. Dua orang pemuda berikat kepala, dengan jaket lusuh, menyandang senapan AK47, masuk gereja, dari pintu kiri dan kanan. Umat mulai panik. Keduanya kembali melepaskan rentetan tembakan yang merusak plafon dan genting, kemudian menodongkan senapan ke arah umat.


Umat berhamburan keluar gereja, hingga tersisa seorang perempuan tua, dan biarawati tua, berlutut memejamkan mata. Kedua pemuda menghampiri mereka, berlutut di samping mereka, kemudian berkata, “Pastor silakan berkhotbah. Gereja sudah bersih dari para munafik.”


Humor fiktif tadi secara ekstrim menjelaskan bacaan Injil hari ini. Kepada iring-iringan pengikutnya Yesus menyajikan perbandingan ekstrim antara mengikuti beliau atau tidak. Mengikuti beliau adalah salib, dan tidak mengikuti adalah kehangatan keluarga. Keduanya tidak bisa didamaikan. Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anakanaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. Dengan itu beliau mengingatkan, mengikuti beliau adalah (1) sesuatu yang berat, yakni salib dan (2) harus total, yakni meninggalkan segalanya, termasuk mengorbankan nyawa.


Sebagai manusia kita akan cenderung menawar, “Salah satu saja deh, Tuhan”. Kita mau memanggul salib, tapi boleh dong, ramai-ramai sekeluarga, biar hangat. Atau bolehlah meninggalkan keluarga dan sahabat, tapi boleh dong bersenang-senang di tempat baru. Dan tanpa pakai negosiasi, kita langsung mengeksekusi tawaran kita. Berani “meninggalkan segala” tapi tidak berani “memanggul salib”, atau “berani memanggul salib” tapi tidak berani “meninggalkan segala”. Dalih kita, “Ah, kan Yesus baik.”

Yesus yang baik itu hari ini memberi ultimatum. Dua hal itu tidak bisa dikompromikan. Beliau mengibaratkan, kalau kalian tak punya modal, tak usah membangun rumah. Kalau takut kalah, tak usah berperang. Kalau tak kuat memikul salib, pulang saja. Take it, or leave it. Maaf