Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan 1: Kel. 32:7-11,13-14 Bacaan 2: 1Tim. 1:12-17 Bacaan Injil : Luk Lukas 15:1-32

LOGIKA FARISI, LOGIKA KITA?

 

Yesus keliru. Begitu pikir orang farisi dan ahli kitab. Bagi mereka keliru bahwa Yesus makan bersama para pemungut cukai dan pendosa. Dari kritik itu kita bisa melihat logika mereka bahwa mestinya Yesus menerima dan berbaik-baik dengan orang baik; mestinya Yesus tidak berbaik-baik pada orang yang tidak baik (pendosa).

Bukankah kita sering berpegang pada logika yang sama? Kalau kita baik, Tuhan akan membalas kebaikan. Kalau kita jahat, Tuhan akan menghukum. Kita menerapkan logika transaksional atau logika dagang dalam berhubungan dengan Tuhan. Efek dari logika ini adalah, “kalau saya sudah berbuat baik, maka Tuhan wajib memberikan rahmat dan keselamatan untuk saya”, dan sebaliknya. Jadi yang menentukan keselamatan adalah amal baik manusia. Logika ini membawa pertanyaan serius: seberapa banyak kebaikan yang diperlukan untuk “membeli keselamatan”? Jika kita berbuat baik sepanjang hidup, apakah itu cukup untuk “membeli keselamatan”? 

Bacaan Injil hari ini jelas berseberangan dengan logika itu. Dalam versi lengkap bacaan Injil hari ini Yesus menjawab persoalan ini dengan tiga perumpamaan berturut-turut: perumpamaan soal domba yang hilang, soal dirham yang hilang, dan soal anak hilang. Dua perumpamaan pertama selalu diakhiri dengan refrain “Aku berkata kepadamu”. Artinya, penginjil Lukas mau menekankan bahwa yang dikatakan itulah yang penting. Apa itu? … akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat

Sabda ini membawa kita pada kesimpulan bahwa kebaikan Tuhan mendahului semua. Tuhan berkehendak baik bagi semua, baik atau jahat, suci atau pendosa. Bahkan pada yang jahat Beliau berteriak, “Ayo, nak, pulanglah.” Rahmat, atau berkat, atau surga hanya membutuhkan jawaban ya. Karena itu berbuat baik setiap hari bukan berarti menabung kebaikan yang bisa kita cairkan kelak. Kita berbuat baik karena sudah menjawab “ya”, dan konsekuen dengan jawaban itu. Si anak hilang itu pun [ ingat juga penjahat yang disalib bersama Yesus] dipeluk-Nya setelah menjawab “ya”, tak peduli berapa besar “tabungan dosanya”.