Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017
 

Bacaan 1: Am 6:1a,4-7 Bacaan 2: 1Tim.6:11 -16 Bacaan Injil : Lukas 16:19-31

 

BUDAYA TAK PEDULI

 

Beberapa waktu silam di media sosial beredar kisah tentang kejutan yang menohok sekelompok turis Indonesia di Hamburg, Jerman. Ketika menikmati makan di restoran, “tim Indonesia” ini

heran mengapa makanan yang dipesan orang setempat sangat minimalis, baik jenis maupun volumenya. Sepiring makanan dan segelas atau sekaleng minuman. Sama sekali tidak romantisnya. Sementara si “tim Indonesia” memesan pada volume besar.

 

Beda berikutnya, orang-orang Hamburg menyantap pesanannya sampai butir dan tetes terakhir, sedang si “tim Indonesia” menyisakan sekitar sepertiganya. Yang terakhir ini membuat berang seorang Oma, yang kemudian memarahi “tim Indonesia”. Tetapi dengan jumawa, anggota tim Indonesia menjawab, kami membayar, jadi berapa banyak makanan yang tersisa bukan urusan kalian. Semakin marah, si Oma kemudian menelepon seseorang, dan sejurus kemudian datanglah petugas berseragam.

 

Setelah mengetahui masalah yang menimbulkan pertengkaran, petugas itu mengeluarkan surat denda sebesar Rp.750 ribu. “Tim Indonesia” tentu saja bermaksud protes, tetapi kemudian terdiam mendengar penjelasan si petugas, Pesanlah hanya yang bisa kalian habiskan. Uang Anda memang milik Anda. Tetapi sumberdaya alam ini milik bersama.

 

Banyak orang di dunia yang berkekurangan. Jadi kalian tak punya alasan untuk menyia-nyiakan sumberdaya alam tersebut. Tidak ada salahnya menjadi kaya, dan tidak ada salahnya menggunakan kekayaan. Alkitab membahas masalah ini sejak periode Perjanjian Lama. Pada periode itu tidak ada pandangan negatif apapun tentang kekayaan dan orang kaya. Umat Perjanjian Lama bahkan percaya bahwa kekayaan adalah tanda berkat. Orang yang memiliki kekayaan berlimpah berarti mendapatkan kelimpahan berkat Tuhan. Lihat saja bagaimana cara mereka memandang kekayaan Daud, Salomo, memandang kisah Ruth dan Ayub

 

Baru dalam Perjanjian Baru kita menemukan banyak kritik terhadap orang kaya. Tetapi kembali, yang dikritik bukanlah kekayaannya. Pada bacaan hari ini yang dikritik adalah sikap orang kaya terhadap orang miskin (di tempat lain yang dikritik: cara menjadi kaya, dan kecenderungan berisiko orang kaya). Hari ini orang kaya dikritik bukan karena dia menikmati kekayaannya, tetapi karena dia membiarkan orang miskin mati di teras rumahnya. Jadi ini bukan pertama-tama soal kaya miskin, melainkan soal kepedulian pada yang lemah, “yang rentan mati”. Dan yang lebih parah adalah ketika ketidakpedulian itu kemudian berubah menjadi gaya hidup, tradisi, bahkan budaya .