Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

 

Bacaan 1: Kel.17:8-13 Bacaan 2: 2Tim.3:14-4:2 Bacaan Injil : Luk.18:1-8


Perumpamaan Tentang Wanita yang Gigih

 


Dalam dua pekan lalu secara berturut-turut, Injil Lukas telah membuka wawasan keimanan dan memberikan pembelajaran penting bagi kita, lewat perumpamaan biji sesawi dan kisah Yesus menyembuhkan 10 orang kusta. Satu di antaranya orang Samaria, dan hanya dialah yang sujud syukur memuliakan Allah.


Injil Lukas Minggu ini (Luk.18:1-8) berkisah tentang perumpamaan 'Hakim yang Tak Benar'. Ada dua tokoh pemeran utama dalam kisah yang hanya ada di Injil Lukas ini. Seorang hakim dan janda. Mengapa wanita berstatus janda jadi bahan pembahasan? Nasib para janda di Israel ketika itu sangat tidak menentu, seperti digambarkan dalam kitab Perjanjian Lama (Ulangan, Bilangan, Yesaya, Maleakhi, dan Mazmur). Meski banyak peraturan yang menaungi mereka, tapi ketidakadilan dan penindasan tetap akrab dengan urusan keseharian para janda. Karena itulah, Allah berpihak dan melindungi mereka [Mzm.68:6 dan 146:9].


Wanita janda di Israel jadi simbol kaum yang lemah terpinggirkan secara sosial, ekonomi, politik, dan hukum. Mereka amat rentan terhadap perlakuan tidak adil meski para janda dinaungi undang-undang. Mereka tetap mengharap perlindungan dari sosok penguasa untuk membela haknya. [Luk.18:3] "Belalah hakku terhadap lawanku."

 

Apa pesan utama yang ingin disampaikan Yesus? Yesus dalam perumpamaan ini menegaskan, jika 'hakim yang lalim' (tak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun) saja akhirnya bisa luluh karena wanita janda yang secara gigih mohon bantuan agar mendapatkan keadilan, apalagi Allah. Pastilah Allah akan memberikan keadilan bagi umat-Nya sendiri yang berdoa pada-Nya siang malam.

 

[Luk.18:6-7] Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” Janda yang gigih ini juga merupakan gambaran dari gereja dalam hal doa. Allah merupakan tempat satu-satunya untuk mengadu. Kita selalu rindu menunggu kehadiran dan keterlibatan Allah dalam pengharapan yang penuh di dalam doa. Seperti perempuan janda yang tanpa ragu, sabar dan gigih tanpa putus asa mendatangi hakim setiap hari dengan permintaan yang sama, kita pun harus yakin. Masihkah kita meragukan belas kasih Allah?