Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

 

Bacaan 1: Sir.35:12-14,16-18Bacaan 2: 2Tim.4:6-8,16-18 Bacaan Injil : Luk.18:9-14

Orang Farisi dan Pemungut Cukai

 

 

Bacaan Injil Lukas yang disajikan dalam perayaan Ekaristi Minggu selama Oktober ini mengingatkan kita agar terus memperdalam keimanan kepada Allah. Injil Lukas kali ini (Luk.18:9-14) mengajak kita untuk belajar bersikap benar dalam hidup lewat perumpamaan 'Orang Farisi dan Pemungut Cukai'. Pesan apa yang ingin disampaikan Yesus? Ada dua sosok pelaku dalam peristiwa ini. Seorang 'Pemungut Cukai' dan satu lagi 'Orang Farisi'. Latar belakang keduanya, baik dalam status sosial, perilaku, maupun urusan agama amat berbeda. Pemungut cukai dianggap sebagai kalangan orang berdosa dan dimusuhi masyarakat. Profesi mereka menarik pajak warga Israel (bangsa umat Allah) yang juga bangsanya sendiri untuk pemerintah Romawi. Tak hanya dicap sebagai orang berdosa, tapi para pemungut cukai juga dianggap sebagai pengkhianat, tak beragama, dan tidak punya hati nurani. Sementara 'Orang Farisi' dikenal sebagai sosok yang terhormat serta taat beragama. Kelompok orang Farisi pun dikenal amat taat menjalankan semua kewajiban perintah agamanya. Mereka adalah para pemimpin spiritual yang saleh. Bagaimana Allah melihat keduanya ketika mereka berdoa di Bait Allah?
 
Dalam perumpamaan ini Yesus menekankan bahwa sikap hati yang benar jauh lebih penting. Bukan peristiwa atau ritualnya. [Luk.18:13-14] "Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Ungkapan si Pemungut Cukai: 'Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa' menunjukkan pengakuan diri yang tulus dan bermakna amat dalam tentang kesalahan dan dosa-dosanya. Sikap rendah hati inilah yang dibenarkan Allah. Sikap merendahkan diri di hadapan-Nya akan menghadirkan Allah menjadi nyata. Kehadiran Allah dalam hidup membuat kita tak hanya sekadar membuat hidup terasa enak namun hidup menjadi lebih baik. Apakah kita sudah berserah diri secara total dan menyadari kedosaan kita di hadapan Allah?