Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan 1 : Bil 6:22-27; Bacaan 2 : Gal 4:4-7; Injil : Luk 2:16-21

MARIA, BUNDA ALLAH !

 

Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah untuk mengingatkan kita akan ajaran sesat yang meragukan Kebundaan Ilahi Maria pada abad ke 5, yang mengajarkan bahwa Maria memang Bunda Yesus tetapi bukan Bunda Allah. Ajaran sesat ini dikutuk dalam Konsili Efesus tahun 431. Konsili dengan teguh mempertahankan ajaran yang benar, bahwa Maria adalah Bunda Allah, karena Yesus – anaknya – adalah sungguh-sungguh Allah. Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah ditetapkan oleh Paus Pius XI pada hari ulang tahun ke-1500 Konsili Efesus tersebut.
Maria sebagai Bunda Allah telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Yes 7:14b) : “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (yang berarti Allah beserta kita)”.  Demikian pula makna salam Elisabeth kepada Maria yang mengunjunginya “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1:42b-43). Merayakan HR Santa Perawan Maria Bunda Allah juga berarti mengakui bahwa Yesus “sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia”. Kemuliaan Maria sebagai Bunda Allah adalah cerminan kemuliaan anaknya, Yesus, Tuhan dan Penebus umat manusia.
Sebagai orang Yahudi yang taat, maka Bunda Maria membawa bayinya yang berusia delapan hari untuk disunatkan sesuai dengan aturan hukum Taurat Musa (bdk Gal 4:4) dan diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum ia mengandung (bdk Luk 2:21, Im 12:3). Yesus (Yunani : Iesous, Ibrani : Yesyua, Yehosyua) yang berarti “Yahweh menyelamatkan”. Melalui Yesus, umat manusia diselamatkan (Kis 4:12, Flp 2:9-11)  dan boleh berseru kepada Allah “ya Abba, ya Bapa !” (Gal 4:6b).
Dialah Mesias yang dijanjikan Yahweh kepada Israel, sehingga kelahiran-Nya melalui Perawan Maria menjadikan-Nya  sebagai bagian dari bangsa Israel. Dan dengan sunat sebagai lambang keanggotaan seorang laki-laki dalam masyarakat Yahudi, menjadikan Yesus sebagai anggota masyarakat Yahudi. Dengan demikian Yesus telah menjadi pengunci antara Perjanjian Lama dan Baru, antara nubuat-nubuat nabi dan pemenuhannya, antara Kerajaan Daud - leluhur-Nya (dari keturunan Yusuf) dan Kerajaan-Nya sendiri yang bersifat universal dan abadi.  Amien.