Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by viagra online buy Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want a powerful treatment because buy viagra professional Erection dysfunction is triggered as an effect of insufficient blood circulation to the member. The decrease buy female viagra For CVS, its not the initial time its located itself in in some trouble buy discount viagra Still another very important benefit of the online pharmacy is the characteristic of providing the common medicines, which will viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the buy viagra now A disfuno ertil ocorre geralmente em associao com doenas como diabetes, presso distrbios that is arterial alta viagra best buy Most individuals who purchase Viagra online do it for the other both or some particular motivation they do not have buy viagra online from canada
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017
 
Bacaan I:1Sam. 16: 1b, 6-7, 10-13a. Bacaan II:Ef. 5: 8-14. Injil: Yoh. 9:1-41
“AKU PERCAYA, TUHAN!”  
 
Dalam bukunya “Psychology and Formation” (1992), Cencini dan Manenti menjelaskan tentang tiga tahap kematangan spiritual orang Kristen. (1) level psiko-fisik (mata fisik): dimana fokus manusia  adalah pemuasan kebutuhan fisik dan ciri khas doanya masih meminta pemenuhan kebutuhan fisik. (2) level psiko-sosial (mata sosial): dimana relasi dengan orang lain menjadi preoritas utama,  menggantungkan imannya pada toko idola, ia beriman sejauh toko idolanya memiliki iman yang kuat.  Bila idolanya mengecewakan maka ia akan berbalik 100% meninggalkan Tuhan. (3) level rasional spiritual (mata spiritual): dimana manusia fokus pada transendensi diri, kebebasan yang bertanggungjawab.  Orang sudah mampu membaca setiap peristiwa hidupnya sebagai bahasa Tuhan terhadap dirinya.  Ada penyerahan diri pada kehendak dan kuasa dari Tuhan.
Senada dengan tahapan di atas, hari ini Yesus menyembuhkan mata seseorang yang buta sejak lahir. Yesus mengoleskan lumpur ke matanya dan setelah ia membasuh diri ke kolam Siloam ia kembali dengan mata melek. Dalam kisah selanjutnya Yesus tidak saja menyembuhkan mata fisiknya tetapi juga membuka mata spiritualnya sehingga ia mulai mengenal Yesus tahap demi tahap mulai dari mengenal Yesus sebagai seseorang (11) lalu menyebut Yesus sebagai nabi (17), melihat Yesus sebagai seseorang yang melakukan mukjizat (25), memandang Yesus sebagai seseorang dari Allah (31), hingga akhirnya dia percaya bahwa Yesus adalah anak manusia yang diutus Allah (38).
Peristiwa penyembuhan mata hari ini kiranya juga menjadi momen refleksi bagi kita. Apakah kita telah melihat Yesus dengan mata spiritual atau masih melihat Yesus dengan mata fisik? Kita juga mohon kepada Yesus supaya sudi membuka mata spiritual kita sehingga mampu membaca kehendak Tuhan yang terjadi dalam setiap peristiwa hidup kita, sehingga kita pun  seperti orang buta dalam cerita injil di atas
 
yang akhirnya sujud menyembah Yesus sambil berkata ”Aku percaya, Tuhan!”. (LN)