Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan I: Kis 6:1-7 Bacaan II: 1Pet 2:4-9 Bacaan Injil : Yoh 14:1-12

Gereja, Bukan Fans Club

 

Selepas pembacaan vonis untuk Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saya membaca status Facebook seorang teman, begini: Bayangkan kalau di dunia ini tidak beragama, berapa puluh atau bahkan berapa ratus juta nyawa yang tidak harus mati dibunuh. Saya tidak menemukan data mengenai jumlah korban, tapi kuat dalam ingatan kita bahwa perang serupa itu sudah terjadi sejak zaman Daud dan Sulaiman, zaman Raja Makabe, entah berapa seri perang salib, sampai dengan era modern. Yang terakhir tentu mudah kita mengingat apa yang terjadi di Afghanistan, Suriah, sejumlah negara Afrika dan Asia lainnya dalam seluruh rentang sejarah. Maafkan, agama mana yang tak bau darah?
Bacaan Injil hari ini bisa kita maknai sebagai jawaban atas kegundahan itu. Perang agama terjadi ketika yang hidup dan dihayati penganutnya adalah agama sebagai semacam fans club, yakni klub antar mereka yang disatukan oleh relasi dan keterikatan emosional yang dangkal. Lihat, betapa geng motor atau suporter sepak bola yang begitu mudahnya untuk tersulut konflik terbuka: tawuran, bahkan bunuh-bunuhan. Injil hari ini memanggil kita untuk mengingat kembali bahwa kekristenan dan kekatolikan lebih dari sekadar Jesus fans club. Kita diajak untuk kembali ke inti iman Katolik: Yesus Kristus dengan seluruh misterinya. Misteri paling dasar itu hari ini dirumuskan dalam dua “ajaran”, yakni bawa (1) “Yesus adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan, ” dan (2) “Percayalah pada-Ku bahwa Bapa ada dalam Aku dan Aku ada dalam Bapa.” Yang pertama adalah definisi operasional, yakni untuk apa Yesus bagi kita yang percaya kepada-Nya. Percaya pada Beliau menjamin kita berada on the right track ke tujuan paling paripurna hidup kita, yakni kebenaran dan kehidupan. Sedang yang kedua adalah definisi eksistensial, atau definisi filosofis, bahwa Beliau dan Bapa itu satu kenyataan dan satu keberadaan. Yang kedua adalah inti dari Credo kita, yang persis membedakan iman kita dengan iman yang lain. (her)