Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan I.Yes. 63:16b-17,64:1.3b-8. Bacaan II. 1Kor.1:3-9. Bacaan Injil. Mrk. 13:33-37

RISIKO MASUK NERAKA, ADA ASURANSINYA?

 

Kita semua berhadapan dengan ketidakpastian, dan sadar bahwa ketidakpastian adalah masalah serius. Karena itu kita selalu berusaha meminimalkan ketidakpastian dan meningkatkan kepastian. Belajar, sekolah, menabung, dan berasuransi adalah beberapa upaya manusia modern memastikan masa depannya. Untuk itu orang rela menginvestasikan waktu, tenaga, perhatian dan uang dalam jumlah besar.

Obsesi manusia memastikan masa depannya di sisi lain menimbulkan bisnis raksasa seperti bisnis kesehatan, pendidikan, perbankan, dan asuransi. Sebagai gambaran, di Indonesia jumlah tabungan masyarakat di bank mencapai lebih dari Rp5.000 triliun, sedangkan simpanan “rasa aman” di asuransi mencapai Rp370 triliun. Belum aneka bisnis pengaman masa depan lainnya. Orang berani membayar mahal untuk memastikan masa depan.

Hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kita pada satu ketidakpastian lain, yakni soal “kapan saatnya tiba.” Bahwa saatnya akan tiba, itu pasti. Yang tidak pasti adalah kapan saat Anda, kapan saat saya. Bisa puluhan tahun mendatang, bisa nanti siang. Pertanyaannya, berapa besar kita “berani bertaruh” untuk mendapat kepastian itu? Seberapa besar upaya yang kita untuk mengamankan ketidakpastian itu? Tidak perlu dijawab, karena dua situasi di atas memiliki perbedaan sense of urgency. Risiko kegagalan ekonomi dan kesehatan adalah risiko yang sangat terukur. Risiko jatuh miskin dan risiko sakit sangat mudah dibayangkan rasa dan dampak ikutannya. Tetapi risiko Tuhan datang hari ini atau 40 tahun lagi, apa bedanya? Bahwa itu adalah soal kematian, mungkin mudah bagi kita membayangkan risikonya. Tetapi bahwa itu adalah saat kita berurusan dengan Tuhan soal keabadian, sungguh sulit dibayangkan.

Tampaknya itu sebabnya Gereja menempatkan teks Yesaya dan Korintus pada bacaan 1 dan 2. Yesaya menulis bahwa Tuhan akan datang kepada orang-orang Israel yang sedang dibuang dan dijadikan budak Babilonia. Dalam konteks itu, kedatangan Tuhan berarti hari pembebasan. Sementara itu Jemaat Paulus pada umumnya merasa bahwa mereka berada di zaman akhir, zaman ketika Tuhan akan memilah dan menjaga kawanan dombanya dari segala yang lain. (her) .