Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan I.Yes. 40:1-5,9-11. Bacaan II. 2 Ptr. 3:8-14. Bacaan Injil. Mrk. 1:1-8.

MENYAMBUT JOSHUA

 

Jauh sebelum periode Yesus, ada orang yang bertugas sebagai penyampai pesan. Berbeda dengan kurir yang membawa surat, penyampai pesan menyampaikannya secara langsung. Lisan. Salah satu penyampai pesan yang penting adalah penyampai pesan hasil peperangan. Kalau tentara Israel menang perang, penyampai pesan akan berkuda dari medan perang, dan meneriakkan kemenangan itu kepada setiap kerumunan orang.
Masyarakat kemudian menyambut tentara yang menang perang itu dengan sukacita dan sorak sorai. Mereka merayakan kemenangan karena kemenangan berarti pembebasan atau kejayaan dan kesejahteraan yang lebih baik. Kabar gembira yang disampaikan oleh messenger tadi dalam bahasa Yunani disebut euangelion, yang diterjemahkan menjadi “injil”. Itu catatan pertama yang bisa kita renungkan tersendiri.
Yang kedua, kata “injil” dimasukkan dalam kalimat pertama penginjil Markus, “Inilah Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Dalam bahasa Yunani “Inilah euangelion tentang Joshua.” Joshua berarti Yahwe menyelamatkan. Jadi kalimat pertama Injil Markus bisa dimaknai sebagai ajakan untuk bersukacita dengan cara yang lebih agung. Sebab, lebih dari sekadar menang perang, ini adalah pembebasan dan kejayaan yang permanen dan abadi.
Catatan yang ketiga adalah, Markus menampilkan dua tokoh bersepupu, Yohanes dan Yesus. Keduanya sama-sama punya pengikut (massa), sama-sama punya pengaruh. Dalam perspektif sekarang, posisi mereka kompetitif, dan karenanya kita cenderung bertanya siapa akan mengalahkan siapa. Tetapi tidak. Kepada pengikutnya Yohanes berkata betapa rendahnya dia dibanding “yang akan datang kemudian” (Yesus). Padahal, betapa besar peluangnya untuk memenangi persaingan, karena dia lebih “berakar Yahudi.”
Maka masuklah kita pada catatan keempat, yaitu so what. Yohanes memilihkan cara terbaik untuk menyambut Joshua. Beliau tidak menganjurkan kita merayakan kehadiran Joshua dengan sorak sorai, pesta, dan aneka euforia sosial. Beliau mengingatkan bahwa Joshua ini bukanlah sang pembebas politis (waktu itu secara politis Israel sudah hancur), tetapi pembebasan rohani. Karena itu, bagi beliau, setepat-tepatnya cara menyambut Joshua adalah membiarkan diri dibaptis. Kita diimbau untuk memantas diri untuk menerima pembersihan air dan roh baptisan. (HS)