Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by viagra online buy Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want a powerful treatment because buy viagra professional Erection dysfunction is triggered as an effect of insufficient blood circulation to the member. The decrease buy female viagra For CVS, its not the initial time its located itself in in some trouble buy discount viagra Still another very important benefit of the online pharmacy is the characteristic of providing the common medicines, which will viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the buy viagra now A disfuno ertil ocorre geralmente em associao com doenas como diabetes, presso distrbios that is arterial alta viagra best buy Most individuals who purchase Viagra online do it for the other both or some particular motivation they do not have buy viagra online from canada
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

I.Yes. 61:1-2a,10-11. Bacaan II.1 Tes. 5:16-24. Bacaan Injil. Yoh. 1:6-8,19-28.

JANGAN LUPA BAHAGIA

 

Sekitar 500 tahun Sebelum Masehi sisa-sisa Bangsa Israel harus tinggal di Babilonia sebagai budak setelah Yerusalem dihancurkan. Pada sore hingga malam mereka biasa berkumpul dan bernyanyi di tepi sungai Babilon, untuk tetap menjaga semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan harapan akan Tuhan. Bacaan pertama hari ini diambil dari salah satu lagu sangat emosional yang biasa mereka nyanyikan.
Bayangkan. Dalam pengasingan dan perbudakan, mereka bernyanyi “Aku bersukaria dan bersorak sorai.” Mengapa bersorak sorai? Karena mereka merasa aman, sebab “Tuhan memakaikan pakaian keselamatan.” Artinya mereka punya harapan untuk kembali ke Yerusalem, kota Tuhan sekaligus kota kesejahteraan bagi mereka. Itulah yang membuat mereka bertahan, bahkan bersukacita, walaupun tertawan di pengasingan.
Bacaan kedua mengirim pesan yang sama. Paulus berpesan kepada jemaat di Tesalonika untuk bersukaria, sebuah sukaria yang kontemplatif: tetap berdoa, selalu bersyukur, jangan padamkan Roh. Artinya, baik bagi Yesaya (Bacaan I) maupun Paulus, kita perlu bergembira baik karena yang “di atas” maupun yang “di depan”; baik karena Tuhan maupun karena harapan.
Gereja mengajak kita membaca Injil hari ini dalam cara pandang itu: alasan yang sesungguhnya untuk bersukaria adalah Yesus. Dia adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh Bangsa Israel. Lihat, Yohanes Penginjil mengutip Yohanes Pemandi yang mengutip Yesaya, yang selalu menjaga harapan bahwa Tuhan akan datang. Yohanes Penginjil maupun Yohanes Pemandi mau mengatakan, “Ya. Tidak salah lagi. Inilah Dia.”
Nada sukacita dan kegembiraan itulah yang selalu ditekankan setiap Minggu ketiga Adven, yang disebut dengan Minggu Gaudete (bersukacitalah), yang merujuk pada antifon hari itu, “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.” Masa penantian tidak identik dengan kebosanan, tetapi dengan sukacita dan harapan. Bapa Suci juga tak pernah bosan menyuarakan pesan ini. Pada Minggu Gaudete 2014, di Gereja St. Yosef Aurelius Paroki Monte Spaccato – Roma, beliau berpesan, “Jangan lupa bahagia.” (her)