Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Bacaan I. 2Sam. 7:1-5,8b-12,14a,16. Bacaan II. Rm. 16:25-27. Bacaan Injil. Luk. 1:26-38.

WAHYU DAN IMAN PERSONAL

 

Dalam kisah sejarah keselamatan pewahyuan tentang Mesias selalu bersifat wahyu publik. Kalau pun Tuhan berbicara dengan para nabi tentang Mesias, maka sang nabi bertugas meneruskan pesan itu kepada Bangsa Israel. Pesan-pesan yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, Nabi Hosea, dan kemudian juga oleh Yohanes Pembaptis, adalah pesan universal seperti itu. Tuhan berjanji kepada Bangsa Israel untuk mengirim penyelamat yang membebaskan Israel dari perbudakan dan dari penderitaan mereka (renungan pekan lalu). Tetapi pada bacaan hari ini, pesan tentang Mesias disampaikan kepada Bunda Maria. Inilah kali pertama Tuhan menyampaikan pesan tentang Mesias pada satu pribadi tertentu. Ada dua pesan spesifik di sana. (1) Bunda Maria akan mengandung, dan (2) yang akan dikandung itu adalah “Anak Allah Yang Mahatinggi; Ia akan menjadi raja; dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Tuhan menyampaikan pesannya. Itulah wahyu. Jika manusia mengamini wahyu itu, kita menyebutnya iman. Gereja memahami bahwa baik wahyu maupun iman memiliki baik dimensi publik maupun personal; baik untuk seluruh manusia, maupun untuk setiap kita, nama demi nama. Isi pesannya pun demikian. Tuhan mengirim penyelamat (baca: keselamatan) baik kepada manusia secara keseluruhan, maupun kepada orang per orang. Karena itu, sebaliknya, manusia (yang mau) juga menanggapi pesan itu baik secara individual maupun secara bersama-sama. Kita beriman secara bersama-sama melalui Gereja. Itu sebabnya Konsili Vatikan II mendefinisikan Gereja sebagai kumpulan orang-orang yang beriman pada (karya keselamatan) Yesus Kristus.
Karena itu kita bisa membaca Injil hari ini dalam cara pandang itu. Kita membaca bahwa sebaik-baiknya iman personal adalah iman Bunda Maria. Bisa dibayangkan betapa tidak mudahnya Bunda Maria menerima pesan Malaikat. Tugas tiba-tiba untuk mengandung dan untuk menjadi Bunda Mesias, adalah sesuatu yang tak terperikan beratnya bagi orang sederhana seperti Bunda Maria. Tetapi Bunda Maria menjawab, “Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu.” Bunda Maria menerima kehendak Tuhan, sepenuhnya, sebagaimana Tuhan mengendaki. Tanpa negosiasi. (HS)