Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Saat positif mengandung untuk yang keenam kalinya, Maria Basaria Ginting disergap gundah. “Ya Tuhan, apa saya kuat? Umur saya sudah 39 tahun, saya sudah punya lima anak...,” ratapnya.

 

SELAMA beberapa hari, Basaria bergumul dengan dirinya sendiri. Namun, bayangan penderitaan Yesus di salib berangsur-angsur menyingkirkan beban di hatinya. Kehamilannya kali ini memang berbeda dengan kehamilan-kehamilannya terdahulu.

Sebelumnya, begitu tahu Basaria mengandung, orang akan mengucapkan selamat kepadanya. Namun, kali ini mereka cenderung kaget. “Astagafirullah, anak keenam!” Tak terbilang kali ia mendengar lontaran serupa.

Alhasil, Basaria kerap dihinggapi rasa malu karena kehamilannya jadi bahan canda bahkan olok-olokan orang. “Wah dilempar celana dalam suaminya saja, Ibu Ginting hamil...,” seloroh teman-temannya.

Basaria pun menyiasatinya. “Akhirnya, setiap kali ada yang menanyakan kehamilan, saya jawab, ini hamil pertama... tapi di rumah sudah ada lima...,” kelakarnya.

Nyatanya, kehadiran enam anak di dalam hidupnya merupakan anugerah. “Pada saat tiga anak saya melanjutkan studi di Yogyakarta dan Bali, di rumah masih ada tiga anak,” ujarnya sembari mengait senyum saat ditemui di Pusat Perbelanjaan WTC Serpong, Jumat petang, 16 Januari 2015.

 

Teman Kuliah

Basaria menikah dengan Gabriel Suhardi Ginting pada tahun 1986 di Yogyakarta, tatkala usianya baru menginjak 22 tahun. “Pak Ginting itu teman seangkatan di Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) Yogya,” ungkap warga Lingkungan Katarina Siena, Paroki St. Monika BSD ini.

Selang setahun, putra sulung mereka, Ayub Ginting, lahir. Agar tiang nafkah keluarganya tak doyong, setiap hari Basaria rela mengitari Pasar Beringharjo Yogya untuk berjualan kopi bubuk dan panganan Medan. Saat itu, sang suami meneruskan studi S1 di Universitas Proklamasi Yogya sambil mengajar karate.

Seusai studi, Ginting memboyong keluarga kecilnya untuk bertaruh nasib di Balikpapan. “Mulanya, Pak Ginting membuka sekolah di sana. Tetapi, karena tidak maju lalu kami pindah ke Padang.”

Di Padang, Ginting menjadi sales Xerox. Sementara Basaria tak lepas menyokong ekonomi keluarga dengan berdagang lantai keramik dan pakaian. “Saya berdagang door to door,” kenangnya. Karena ingin mengerahkan konsentrasi untuk berdagang, Basaria enggan punya anak lagi. “Apalagi, Pak Ginting tidak mau bekerja di kantor karena sering merasa tertekan,” dalihnya.

Selanjutnya, Ginting mengajak keluarganya tinggal di rumah orangtuanya di Medan. Di sana, Ginting menggeluti bidang pertanian sementara Basaria berjualan tanaman hias. “Saat itu, mertua menyarankan saya untuk punya anak lagi,” kisahnya. Alhasil, selama tinggal di Medan, Basaria melahirkan dua anak lagi pada tahun 1992 dan 1994.

 

Pindah ke BSD

Sewaktu rumah mertuanya di Kampung Lalang Medan  hendak dijual, Ginting dan Basaria hijrah ke BSD pada tahun 1996. “Karena ada saudara Pak Ginting tinggal di BSD,” lanjut Basaria.

Di tempat yang baru, Basaria dan Ginting dikaruniai tiga anak lagi pada tahun 1998, 1999, dan tahun 2002. “Anak keempat lahir pada saat kerusuhan 1998. Karena terlambat lahir, dokter mengisyaratkan untuk operasi Caesar,” bebernya lagi.

Saat itu, dana di pundi-pundi keluarganya amat terbatas; tak mungkin untuk membiayai persalinan Caesar. Ia pun meningkatkan darasan doanya agar terbentang jalan keluar. “Syukurlah, anak keempat lahir normal meski tubuhnya sempat kuning,” kenangnya.

Meski kerap sibuk berdagang, Basaria senantiasa mendahulukan urusan keluarga. Ia selalu menyiapkan sendiri makanan di rumah. Soal gizi tak pernah ia abaikan. “Kalau ada anak yang sakit, saya tidak berdagang. Menunggu sampai anak sehat.”

Ia paling khawatir jika anaknya kena muntaber atau demam berdarah. “Kecuali anak perempuan, semua anak laki-laki saya pernah kena muntaber. Bahkan, si sulung terserang demam berdarah sewaktu masih umur delapan bulan,” kata wanita berambut ikal ini.

Basaria juga mengedepankan pendidikan iman bagi keenam anaknya. “Pertama-tama, mereka harus takut kepada Tuhan sehingga apa pun yang mereka kerjakan akan benar,” ucapnya yakin.

Setiap malam, ia mengajak anak-anaknya membaca renungan harian. Ia juga membawa anak-anaknya untuk ikut dalam acara-acara lingkungan. “Setiap Minggu, kami berdelapan ikut Misa di gereja; sederet bangku penuh,” katanya sembari melepas tawa.

Tak terbilang kali ia mengingatkan kepada anak-anaknya bahwa doa merupakan pilar kehidupan. Ia juga mengajarkan kepada mereka untuk rajin bersyukur, mau mengampuni, dan berbagi kepada orang lain. “Memberi dari kekurangan itu luar biasa,” tegasnya.

 

Ada Mukjizat

Membiayai kebutuhan enam anak dari hasil berdagang di pasar tentu tidak mudah. Apalagi laba perolehannya naik turun tak menentu. Sesekali  ia terpaksa berhutang kepada saudara atau tetangga demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Ia merasakan mukjizat Tuhan senantiasa tiba pada waktunya.

“Dulu, saya minta rumah kepada Tuhan. Doa saya terkabul; baru dua tahun saya berjualan ikan asin di pasar BSD, saya punya rumah,” bebernya dengan tatapan berbinar.

Salah satu kenangan yang tak bakal beranjak dari benaknya adalah saat ia harus membiayai uang pangkal empat anaknya sekaligus. “Ada anak yang mau masuk Fakultas Ekonomi UGM, ada yang mau masuk TK St. Ursula, SMP St. Ursula, dan SMA St. Ursula,” urainya.

Karena terbentur dana, sejujurnya Basaria mengatakan tidak sanggup memasukkan si bungsu ke TK St. Ursula kepada Koordinator Sekolah St. Ursula BSD, Suster Francesco Marianti OSU. Sementara itu, karena terhimpit keadaan, ia terpaksa meminjam uang kepada rentenir. “Karena tumpul memikirkan biaya, saya meminjam Rp. 2.000.000 dan dalam seminggu saya harus bayar Rp. 2.200.000.”

Akhirnya, semua kebutuhan uang pangkal itu tertutup dan ia bisa segera melunasi hutangnya ke rentenir. “Ini mukjizat. Saya benar-benar hanya mengandalkan Tuhan,” tegasnya lagi.

Mukjizat lainnya yang ia rasakan adalah saat ia menginginkan si bungsu bersekolah di Sekolah St. Ursula. Dengan sarat keyakinan, ia mengutarakan keinginannya kepada Tuhan.  “Tuhan, lima anak saya sekolah di Ursula. Anak keenam juga ingin sekolah di Ursula supaya jangan sampai dia iri.”  Tak dinyana, Suster Francesco menghubunginya. “Anak keenam malah ditawari sekolah di St. Ursula. Suster tahu keadaan kami, kami dibantu.”

Demi pendidikan keenam anaknya, Basaria dan Ginting hidup bersahaja. “Kami tidak pernah bersenang-senang. Kami makan di luar rumah kalau ada anak yang berulang tahun atau ada undangan dari saudara,” akunya.

 

Sejak Belia

Berdagang telah ditekuni Basaria sejak belia.  “Kunci orang dagang itu cuma satu; harus jujur terhadap sesama. Kalau pinjam uang ya harus dibayar, jangan mengulur-ulur waktu. Jangan sampai kita mengambil hak orang lain,“ kiatnya.

Tak lama setelah keluarganya tinggal di BSD, Basaria berdagang di Pasar BSD (lama). Awalnya, ia menyewa sebuah lahan sempit berukuran 2X1 meter di dekat WC umum. “Tempatnya di sudut pasar, bau karena di dekat kamar mandi dan tempat menyembelih ayam. Pedagang-pedagang sebelumnya tidak tahan berjualan di situ,” bebernya.

Di situ, Basaria berjualan sembako. Perlahan-lahan omzet penjualannya menanjak. Seiring bergulirnya waktu, ia berdagang ikan asin. Alkisah, anak sulungnya ingin makan dengan lauk teri medan. “Saya beli ikan teri di Pasar Serpong, rasanya asin banget.”

Lalu, Basaria berburu teri medan ke Pasar Senen Jakarta. Sebagian teri itu ia jual di pasar; ternyata laris manis! “Akhirnya, saya kulakan teri medan. Hasilnya luar biasa, dalam dua tahun saya bisa menabung Rp. 15 juta.”

Sebagai pedagang, Basaria harus lihai mengelola uang. Demi biaya studi anak-anaknya, ia pantang mengambil barang kreditan. Kalau menginginkan sesuatu, ia menabung. “Orang dagang tidak boleh boros, jangan sampai punya banyak keinginan,” tegasnya lagi.

Ia bersyukur anak-anaknya bisa berdamai dengan realita.  “Sewaktu ada orang yang memberi seragam bekas, mereka tidak malu memakainya.” Meski jatah uang jajan terbatas, anak-anaknya tidak melontarkan keluh.

Saat ini, si sulung, Ayub, telah memungkasi studi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada dan sudah bekerja di sebuah perusahaan di Magelang. Sementara putri keduanya, Ribka, sebentar lagi menuntaskan kuliahnya di Fakultas Hukum Unika Atma Jaya Yogya.

Meski demikian, jalan panjang masih harus dilintasi oleh Basaria dan Ginting. Mereka harus berjuang membiayai studi keempat anaknya. “Masih sekitar sepuluh tahun lagi kami membiayai studi anak-anak,” katanya dengan tatapan menerawang.

Kini, anak-anaknya bisa menjadi rekan yang mewarnai keseharian Basaria. “Mereka itu lucu-lucu, suka bercanda,” ucapnya dengan mimik gembira. Rasa penat selepas berdagang seharian pun luruh, begitu canda tawa anak-anak menerobos gendang telinganya. Kehadiran enam anak itu sungguh anugerah. ***

 

Oleh Maria Etty