Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Kamis, 20 Februari 2014

Yakobus 2 : 1 - 9

Mazmur 34 : 2-3, 3-4, 5-6

Markus 8 : 27 - 33

 

“Enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

(Markus 8: 33b)

 

SAAT Yesus bertanya siapakah diri-Nya, banyak yang menjawab bahwa Dia Yohanes Pembatis, Elia atau seseorang dari nabi yang datang. Akan tetapi Petrus mempunyai iman yang teguh mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Akan tetapi saat Yesus memberitahukan tentang pertanda penderitaan Nya, Petrus mencoba mengalihkannya yang akhirnya Yesus memarahi dia seperti ayat di atas.

 

Dalam bacaan Yakobus juga diajarkan untuk tidak memandang rupa atau penampilan. Terkadang kita suka membuat ruang pemisah antara diri kita dan orang lain, kita mulai mengelompokkan orang–orang berdasarkan status sosial, kelas ekonomi, dan sebagainya. Di saat inilah sebenarnya kita telah berbuat kejahatan melalui pikiran kita. Pikiran kita yang tidak kudus membuat kita tidak melihat apa yang Tuhan ingin lakukan terhadap diri kita, sama seperti Petrus.

 

Teman–teman, mari kita sama–sama belajar melihat orang–orang di sekitar kita sebagaimana Tuhan memandang mereka. Let us share God’s Love melalui kesaksian hidup kita tanpa harus membeda–bedakan kelas atau status sosial. Karena akhirnya Tuhan tidak pernah memandang seberapa kaya kita atau seberapa terkenalnya kita. Tuhan melihat seberapa jauh, kita berjalan bersama-Nya dengan melakukan kehendak-Nya. [YD]

 

Apakah kita masih sering mengelompokkan sesama kita?

 

DOA(†)

Tuhan, ubah hatiku seperti hati-Mu dan mataku seperti mata-Mu, sehingga kami bisa menceritakan kasih-Mu untuk sesama kami. Amin(†)