Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Selasa, 25 Februari 2014

Yakobus 4:1-10

Mazmur 55:7-8,9-10a, 10b-11a,10b-11a,23

Markus 9:30-37

 

“Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.

(Markus 9:37)

 

KETIKA Yesus tidak mau orang banyak mengetahui posisi Dia saat itu, para murid-Nya malah bertengkar perihal siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus selalu mengajarkan kepada kita soal ‘kerendahan hati’. “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” (Markus 9:35) Mungkin memang konsep ini berbeda dengan apa yang kita jumpai dalam masyarakat kita. Di mana-mana seorang pimpinan tidak mau disamakan dengan pelayan. Berbeda dengan ajaran Yesus. Justru orang yang merendahkan diri akan ditinggikan.

 

Mari kita lihat jawaban Yesus seperti pada kutipan ayat di atas. Bahkan Yesus mengatakan bahwa ketika kita menyambut Yesus, justru kita sedang menyambut Bapa yang mengutus Yesus. Yesus selalu merasa bahwa apa pun yang Ia kerjakan, semua atas utusan Bapa. Seakan-akan Ia tidak dapat melakukan mukjizat tanpa seizin Bapa yang mengutusnya. Setiap kali dia mau berkeliling untuk mengajar atau pun selesai berkarya Yesus selalu menyempatkan diri untuk berdoa kepada Bapa-Nya.  Yesus telah memberi teladan yang baik soal kerendahan hati. Mari kita belajar untuk saling merendahkan diri kita di hadapan Tuha dan saling melayani. [tj]

 

Sudahkah kita merendahkan diri dengan melayani sesama?

 

DOA(†)

Tuhan, beri kami hati seperti-Mu yang senantiasa mau melayani.Amin(†)