Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Selasa, 11 Maret 2014

Yesaya 55:10-11

Mazmur 34:4-5,6-7,16-17,18-19

Matius 6:7-15

 

 “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku

 (Mazmur 34: 5)

 

 

PADAsaat kita ngobrol dengan sahabat biasanya kita akan lebih terbuka dan ceplas-ceplos. Kita akan berbicara apa adanya dan tetap merasa nyaman. Mengapa? Karena dia sudah kenal kita luar dalam dan juga sebaliknya. Bacaan Injil hari ini mengingatkan saya untuk merenung kembali, sebenarnya siapakah Tuhan dalam hidup kita? Apakah Dia juga sahabat kita?

 

Ketika kita sharing pengalaman atau hal-hal penting dalam hidup kita kepada seseorang, berarti kita percaya sama dia. Kita percaya karena kita sudah merasa nyaman dengannya. Saya belajar melalui proses dengan mentor saya. Saya tidak perlu bertele-tele atau menyembunyikan sesuatu ketika bercerita dengannya. Mengapa? Karena Beliau sudah mengenal saya dan memperlakukan saya sebagaimana seorang keluarga. Beliau sangat mengenal saya sehingga langsung mengerti ketika ada hal yang tidak wajar atau kurang menyenangkan buat saya. Saya pun percaya kepada Beliau dan yakin dengan perkataannya. Lalu saya jadi berpikir ketika membaca bacaan hari ini. Bagaimana dengan hubungan dan kepercayaan saya dengan Tuhan? Apakah saya juga percaya kepadaNya? Atau saya masih memperlakukanNya seakan-akan Tuhan adalah orang asing?  [AW]

 

Apakah saya sudah memperlakukan Dia sebagai sahabat?

 

DOA(†)

Tuhan, terima kasih karena telah menjadi Pribadi yang dekat, yang dapat selalu dipercaya, dan mengenal saya jauh ke dalam. Amin(†)