Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Jumat, 14Maret2014

Yehezkiel 18:21-28

Mazmur 130:1-2,3-4ab, 4c-6,7-8

Matius 5:20–26

 

“ Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. “ (Matius 5:23-24)

 

TEMAN, saat saya membaca ayat di atas, saya teringat akan kejadian saat saya masih kecil maupun akhir- akhir ini. Saat saya kecil, ketika tanpa saya sadari telah membuat ayah saya marah dan ayah saya masih agak kesal walaupun saya telah meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya, Rasanya masih saja belum tenang. Lalu saya membujuk ibu saya untuk meredakan amarah ayah saya. Biasa ibu saya hanya berkata, “Sudahlah, nanti ayah juga kembali seperti biasa lagi.“ Lalu saya pun mulai mencoba untuk berdamai dengan diri saya sendiri dan membawa kami semua ke dalam doa saya. Puji Tuhan, Allah sumber damai mendamaikan kami semua.

 

Saya juga teringat akan kejadian akhir- akhir ini di mana saat kita terburu- buru, kita akan lebih mudah terbawa emosi dan mudah terjadi konflik dengan sesama. Saya segera berdoa agar Tuhan mengubahkan dan mendamaikan kami. Saya pun dingatkan bahwa Tuhan ingin kita selalu dalam keadaan damai. Seperti dalam bacaan pertama hari ini bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya. Jika belum, mari kita mulai berdamai. [eS]

 

Sudahkah kita menjadi pembawa damai?

 

DOA(†)

Tuhan, mampukanlah kami untuk menjadi pembawa damai-Mu. Amin(†)