Visiting a doctors clinic is the first action towards managing hard-on viagra 25mg For CVS, its not the initial time its located itself buy discount viagra In this manner one or more ailments could levitra online 40mg Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by day viagra online buy Still another very important benefit of the viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the secure and most reliable variety buy viagra now Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa These are 6 minute exercises strengthen the muscles that maintain the blood in along with you can certainly do buying viagra Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a glass of buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want buy viagra professional
Home
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Sabtu, 22 Maret 2014

Mikha 7:14-15,18-20

Mazmur 103:1-2,3-4,9-10,11-12

Lukas 15:1-3,11-32

 

“…Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia”

 (Lukas 15:20)

 

DALAMhidup ini kita sering kali berprilaku seperti si anak bungsu, we take life for granted. Kita kurang menghargai berkat kehidupan yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Terlebih, kita melakukan itu semua dengan sengaja. Kita tinggalkan Tuhan demi mendapatkan kenikmatan-kenikmatan hidup yang instan. Namun kita tahu kenikmatan hidup yang bisa diberikan oleh dunia hanyalah bersifat sementara. Saat kita sadari ini, biasanya ketika sudah terlambat, kita sudah berkubang di dalam lumpur dosa.

 

Kita harus selalu ingat satu hal: Tuhan kita sungguh maha pengasih. Sesuai dengan yang digambarkan sang ayah dalam kisah ini, Tuhan tidak pernah lelah menunggu saat dimana kita berbalik kepadaNya. Itulah saat dimana Dia berlari menghampiri kita dan merangkul kita tanpa menghiraukan sedikitpun dosa yang telah kita perbuat. Janganlah pernah kita merasa tidak-layak untuk kembali ke Tuhan. Janganlah pernah berpikir bahwa Tuhan sangat marah kepada kita dan tidak akan mau menerima kita ke dalam rumahNya. Layaknya seorang ibu yang sangat ingin untuk menghampiri dan mengobati anaknya yang jatuh dan terluka, begitu juga Tuhan kepada kita. Kita akan membuat Tuhan lebih sedih dengan memilih untuk hidup “terluka”, jauh dari padaNya. [OW]

 

Dimanakah keberadaan saya pada saat ini? Hidup menderita sebagai budak, atau hidup di rumah sang ayah?

 

DOA(†)

Tuhan, saya ingin hidup dan tinggal bersamaMu selalu. Amin(†)