Make sure that you do not sleep in day. You tumultuous head aches can be caused by viagra online buy Besides its immediate effect on functionality, strain has some unwanted effects which buy viagra usa Kamagra is produced by Ajanta Pharmaceuticals in India. Its possible for you to take this medicine with a buy brand viagra If you are afflicted with impotency and want a powerful treatment because buy viagra professional Erection dysfunction is triggered as an effect of insufficient blood circulation to the member. The decrease buy female viagra For CVS, its not the initial time its located itself in in some trouble buy discount viagra Still another very important benefit of the online pharmacy is the characteristic of providing the common medicines, which will viagra buy cheap The first name is Zolpidam 10 Mg if we all discuss the buy viagra now A disfuno ertil ocorre geralmente em associao com doenas como diabetes, presso distrbios that is arterial alta viagra best buy Most individuals who purchase Viagra online do it for the other both or some particular motivation they do not have buy viagra online from canada
Sejarah
 
100_4981
100_5012
100_5019
mozaikgereja
pantiimam2017

Pada Bulan September 1995 Dewan Stasi St. Ascencio menghadap Bapak Uskup Mgr Leo Sukoto untuk membahas berbagai perkembangan mengenai stasi ini, termasuk kemungkinan mengubah status stasi ini menjadi paroki.

Pertimbangannya adalah bahwa jumlah umat terus berkembang, infrastruktur fisik sudah dipersiapkan, organisasi pendukung sudah dipersiapkan, keuangan diperkirakan memungkinkan, dan ada gembala yang bertugas di sana. Maka proses “negosiasi” ini akhirnya berjalan cukup lancar, dan Bapak Uskup menyetujui perubahan status Stasi Ascencio menjadi paroki. Bahkan beliau sendiri yang mengusulkan nama St. Monika sebagai pelindung paroki.
Santa Monika dikenal sebagai pendoa yang tekun. Ia tak pernah menyerah menanti doanya dikabulkan. Monika lahir di Tagaste, Afrika Utara, dari sebuah keluarga Kristen yang saleh dan taat beribadat. Pada usia 20 tahun ia menikah dengan Patrisius dan kemudian melahirkan tiga orang anak: Agustinus, Navigius, dan Perpetua. Di awal perkawinan, Monika tidak hanya hidup bersama Patrisius yang kafir dan suka melakukan tindak kekerasan, tetapi juga bersama ibunya, yang ternyata juga menyusahkan seperti putranya. Maka perkawinan bagi Monika menjadi sebuah perjuangan tak kenal lelah dalam doa agar Patrisius dan ibunya mau bertobat.
Tekanan batin mendera Santa Monika dengan hebatnya karena Agustinus remaja hidup dalam kesesatan tanpa iman. Monika seakan berjuang sendirian. Upayanya menyadarkan Agustinus tidak jarang justru dicemooh suaminya, Patrisius. Namun semua itu ditanggungnya dengan sabar sambil tekun berdoa mohon campur tangan Tuhan. Dan sungguh, kesabaran yang disertai dengan ketekunan doa itu membuahkan berkat berlimpah. Pada tahun 370 Patrisius dan ibunya bertobat dan dipermandikan. Berkat itu disusul dengan pertobatan St. Agustinus yang dipermandikan pada tahun 387, menyusul perkenalan panjangnya dengan Uskup Ambrosius. Berkat itu semakin berarti bagi St. Monika, karena di kemudian hari ternyata St. Agustinus menjadi salah seorang pujangga gereja yang karya-karyanya dikenal hingga saat ini.
Tampaknya pesan utama bapak uskup dalam pemilihan St. Monika sebagai pelindung adalah agar umat terus meneladani ketekunan hidup doa St. Monika. Pemilihan nama itu kemudian dituangkan dalam Dekrit Keuskupan Agung Jakarta No. 1794A/3.25.3/1995 tertanggal 3 November 1995 tentang peningkatan status Stasi Ascencio menjadi Paroki Serpong dengan nama pelindung St. Monika.
Adapun susunan pengurus Dewan Paroki pertama adalah sebagai berikut:
Ketua         : Pastor Yosef Gandi OSC
Wakil Ketua     : A Mariatmo
Sekretaris I    : B Ari Setianingsih
Sekretaris II    : FX Heri Koestanto
Bendahara I     : A. Pinitoyo
Bendahara II    : MT Endang Wirasati 
Anggota     : Pastor Yosef Warayaan OSC
Dolf S. Darmawan
FX Syukur
T Tirta Sugiarta

Kendati secara resmi dekrit tersebut dikeluarkan Bulan November 1995, secara administratif kegiatan keparokian sudah dimulai sebelumnya. Salah satunya adalah sudah dimulainya pencatatan permandian dalam Buku Baptis tersendiri, mulai 9 Agustus 1995, dan nama pertama yang tercatat di sana adalah Paulus Kartiko Ajipurno, yang dipermandikan oleh Pastor Ign. Putranto OSC. Sejak saat itu Buku Baptis terus terisi dengan cepat, dan pada Oktober 2006 telah memasuki jilid kedelapan, dengan jumlah yang sudah dipermandikan 5.121 orang, baik bayi maupun dewasa.
Namun perlu dicatat di sini bahwa Stasi St. Helena, yang masuk dalam wilayah Paroki St. Monika, justru sudah memiliki Buku Baptis terlebih dulu, yakni sejak 8 Juni 1994, dan hingga kini telah memasuki jilid ketiga dengan jumlah 1180 per 30 September 2006. Sedangkan Stasi St. Odilia memiliki Buku Baptis sejak 28 Juli 1996, dan hingga kini memasuki jilid kedua, dengan total permandian 1039 jiwa. Dengan demikian total permandian di seluruh wilayah Paroki St. Monika di katiga wilayah ini hingga 30 September 2006 adalah 7.340 jiwa. 

Wilayah dan Perbatasan
Perkembangan pesat juga telah terjadi dalam hal jumlah lingkungan. Ketika Stasi Ascencio berdiri, di dalamnya terdapat hanya empat lingkungan. Tetapi ketika stasi ini berubah status menjadi paroki, jumlah lingkungan sudah berkembang menjadi 14, yakni: Lingkungan Petrus dan Paulus, Lingkungan Lukas, Lingkungan Markus, Lingkungan Yohanes, Lingkungan Ursula 1, Lingkungan Ursula 2, Lingkungan Gabriel, Lingkungan St. Yoseph, Lingkungan Margaretha, Lingkungan St. Angela 1, Lingkungan St. Agela 2, Lingkungan St. Angela 3, Lingkungan Yovita dan Lingkungan Maria Immaculatta.
Paroki ini menjadi paroki terluar Keuskupan Agung Jakarta di sisi Barat Daya. Bagian utara berbatasan dengan Jl. Tol Jakarta Merak atau Paroki St. Agustinus, sisi Timur berbatasan dengan Paroki St. Bernadeth Cileduk, Paroki St. Matius Bintaro, dan Paroki St. Barnabas Pamulang. Sedangkan sisi Selatan dan Barat berbatasan dengan Keuskupan Bogor. Pada mulanya pembagian wilayah ini tidak mengalami masalah apapun. Namun belakangan muncul dua hal yang perlu mendapatkan perhatian. Pertama adalah soal Lingkungan Bintang Timur di Parung Panjang, Bogor. Kalau mengikuti garis administratif kenegaraan, daerah ini semestinya masuk dalam wilayah Keuskupan Bogor. Akan tetapi dari sisi jarak dan waktu tempuh, lebih mudah bagi umat di lingkungan itu untuk mengikuti kegiatan gerejani di Paroki St. Monika. Maka kemudian umat memilih untuk aktif di Paroki St. Monika. Kedua adalah menyangkut Perumahan Vila Dago Tol. Perumahan ini sudah berada di seberang Kali Angke, sehingga semestinya tergabung dengan Paroki St. Barnabas Pamulang. Namun dari sisi transportasi, lebih mudah bagi umat untuk menjangkau Gereja St. Monika, yang hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam perjalanan dengan ongkos transport Rp5.000. Sedangkan untuk menjangkau pusat kegiatan Paroki Barnabas, mereka membutuhan waktu tempuh 1,5 jam dengan ongkos transport Rp20.000. Itulah sebabnya umat di lingkungan ini juga mengajukan usul agar secara administratif dimasukkan dalam wilayah Paroki St. Monika.
Ketika Bapak Uskup mengeluarkan dekrit pendirian Paroki St. Monika, proses pembangunan gedung gereja sudah hampir tuntas. Sekadar kilas balik, proses pembangunan gereja ini sungguh melibatkan seluruh umat, terutama dalam hal pendanaan. Umat berperanserta entah dengan memberikan sumbangan langsung maupun dengan ikut aktif mencari dana dengan berbagai cara, mulai dengan penyelenggaraan Gala Dinner, “mengamen” ke paroki-paroki lain, sampai dengan penjualan kupon berhadiah.  Pembangunan gedung gereja itu menghabiskan dana sebesar satu miliar rupiah, atau tepatnya Rp. 1.005.944.372. 

Para Pastor OSC
Sejak masih berstatus sebagai stasi, wilayah ini dilayani oleh para Pastor Ordo Salib Suci (OSC), karena paroki ini merupakan pemekaran langsung dari Paroki St. Agustinus yang dilayani oleh para Pastor OSC. Ketika masih berstatus sebagai Stasi Ascencio, Paroki St. Agustinus dilayani oleh Pastor Chris Tukiyat sebagai Pastor Kepala Paroki, sedangkan Pastor Ign. Putranto OSC bertugas sebagai Pastor Stasi Ascencio.  Pastor Putranto kemudian diganti oleh Pastor Yosef Gandi OSC, yang kemudian bertugas sebagai Pastor Kepala Paroki yang pertama, dibantu oleh Pastor Yos Warayaan OSC sebagai pastor kapelan. Pastor Gandi kemudian digantikan oleh Pastor Paskasius Bekatmo, yang kemudian digantikan oleh Pastor Yohannes Widyasuharjo OSC yang bertugas hingga saat ini. Di samping para kepala paroki tersebut, Ordo Salib Suci pernah menempatkan sejumlah pastor lain di Paroki St. Monika seperti Pastor Yan Sunyata OSC, Pastor Dominikus Uus Doni OSC, Pastor Donatus Manalu OSC, dan Pastor Andreas Dedi OSC.
Para Pastor OSC ini pulalah yang kemudian merintis pendirian Stasi St. Helena dan Stasi St. Odilia hingga masing-masing sudah memiliki gedung gerejanya sendiri. Bahkan Stasi St. Helena sudah berubah status menjadi Paroki St. Helena sejak 1 Oktober 2006, sedangkan Stasi St. Odilia juga sudah siap untuk menjadi paroki, dan diperkirakan akan mendapatkan status baru sebagai paroki pada awal 2007.
Selain para pastor OSC, saat ini berkarya seorang pastor SSCC, yakni Pastor Anton Suprapto SSCC, yang oleh pihak Keuskupan Agung Jakarta akan ditugasi memimpin Stasi St. Odilia kalau stasi ini berubah status menjadi paroki di tak lama lagi.
Salah satu fakta yang menarik adalah bahwa jumlah umat di Paroki St. Monika sudah sedemikian besarnya sehingga setiap pastor rata-rata menggembalakan 5.500 umat. Karena itu seringkali lingkungan-lingkungan yang ada di paroki ini mengundang para pastor dari luar paroki untuk berbagai keperluan, mulai dari misa lingkungan, misa keluarga (biasanya Misa Requiem), rekoleksi, seminar dan aneka kebutuhan yang lain.

Umat
Tidak mudah untuk mengemukakan profil ekonomi umat Paroki St. Monika. Yang lebih mudah adalah memetakan profil tempat  tinggal umat secara umum. Di luar Stasi Helena dan Stasi Odilia, Paroki St. Monika meliputi satu kawasan yang sebagian dikembangkan oleh pengembang perumahan komersial, dan sebagian yang lain dikembangkan secara alamiah oleh masyarakat sendiri secara perseorangan. Perumahan yang dikembangkan oleh pengembang komersial biasanya lebih rapi, teratur, dan terkelompokkan dalam besaran tanah dan rumah yang berbeda-beda. Dari situ bisa dilihat ada perumahan sangat sederhana, perumahan sederhana, perumahan menengah, dan perumahan besar atau mewah. Sementara itu di luar kompleks perumahan tersebut, tentu saja juga ada rumah yang sangat sederhana dan ada pula yang sangat mewah, tetapi dengan penyebaran yang tidak teratur.
Paroki St. Monika meliputi kawasan luas dengan potret seperti itu, sehingga bisa dikatakan bahwa paroki ini sangat majemuk. Ada cukup banyak umat yang tinggal di rumah-rumah besar dan mewah, tetapi ada banyak pula yang tinggal di perumahan menengah dan perumahan sederhana. Kemajemukan juga terlihat dari sisi latar belakang pekerjaan, yakni mulai dari buruh kasar, pekerja kantoran, profesional, sampai pengusaha dari skala kecil sampai pengusaha besar. Tetapi cukup jelas bahwa sebagian terbesar umat hidup dari bekerja sebagai karyawan, dan umumnya bekerja di Jakarta. Para kepala keluarga (sebagian juga dengan pasangannya) pada umumnya adalah kaum pelaju harian yang pagi-pagi sudah berangkat ke Jakarta dan tiba di rumah kembali lama setelah matahari terbenam. 
Namun ditinjau dari sisi usia kepala keluarga, bisa dikatakan bahwa umat Paroki St. Monika cukup homogen. Ditinjau dari usia kepala keluarga, yang terbesar adalah mereka yang masuk dalam kelompok usia 30 tahun sampai 45 tahun, dan sebagian besar dari mereka memiliki anak dengan usia praremaja. Para kepala keluarga dan pasangannya umumnya berpendidikan tinggi, minimum SLTA, dan cukup banyak yang berpendidikan pada jenjang S2 dan bahkan S3.  (Her Suharyanto, Rosa Amanda Salim, Arnette Harjanto)